
Duka,duka yang mendalam lagi. Indonesiaku harus berduka lagi. Air mata terus membanjiri Indonesia. Jeritan terus menerawang, lari-larian kencang, ketakutan-ketakutan, suara minta tolong, terus menderap-derap seakan-akan terus memacu jantung rakyat Indonesia. Bocah-bocah yang belum berdosa, ibu dan ayah yang sedang bekerja, dan orang tua yang sudah tidak berdaya lagi. Semuanya sirna, sirna sudah. Mereka berduka, mereka terus berduka. Gempa dan tsunami di Mentawai dan Gunung Merapi di Jawa Tengah. Alam Indonesia kembali berguncang, laut Indonesia sekali lagi memuntahkan airnya sekuat-kuatnya. Debu-debu pengap yang sangat banyak kembali mencemari udara yang dulunya bersih, dan api yang sangat panas kembali meletup. Menggerakkan jiwa raga manusia berlari kencang, dengan sejuta ketakutan yang membuat tidak tenang. Ya, Indonesia kembali berduka, sangattt berduka. Air mata itu kembali keluar meluap dari mata-mata yang tak berdosa. Suara-suara keras itu kembali menerawang dari mulut para bocah yang belum mengerti sepenuhnya. Kegoyahan-kegoyahan itu kembali menghinggapi kehidupan manusia di negaraku yang indah ini.
Pahlawan, mungkin hanya kau yang dapat mengobati gores-gres luka di hati para korban. Pahlawan yang rela mengorbankan semuanya yang ada padanya. Jiwa raga, materi, semuanya. Maknamu sungguh tak terhitung. Jiwa-jiwa yang dulu masih di dalam timbunan bongkah-bongkahan batu tajam yang menjerit sangat kuat, anak-anak yang tak berdosa merengek-rengek tak tahu apa yang terjadi, orangtua yang sudah tak berdaya lagi, mereka hidup, mereka bisa bernafas lagi, itu hanya karenamu Pahlawan. Hatimu akan berkecamuk kalau kami sengsara, jiwamu pasti tidak tenang jika kami tertimpa musibah, ragamu seakan mau bergerak terus jika kami tak tersenyum seperti dulu lagi.
Pahlawan, kau tak mengharapkan apa-apa. Kau tidak mengharapkan secuil materipun dari kami, yang kau tolong. Kau hanya ingin mereka hidup, dan dapat tersenyum lagi. Anak-anak bisa tertawa dengan sejuta gaya lagi, ibu dan ayah bisa bekerja untuk anak-anaknya lagi, dan para orangtua bisa menikmati sisa-sisa hidupnya lagi. Kau berusaha sekuat yang kau bisa. Oh, Pahlawan, pahlawan yang sungguh sangat berjasa, sungguh sangat bermakna. Tak bisa kami membalasnya, jangankan membalasnya, mengingatnyapun kami susah. Maafkan kami Pahlawan, tapi dari hati kecil kami yang paling dalam, kami ingin kau hidup tenang, SELAMANYA.
.jpg)